Penyakit tiroid terjadi ketika kelenjar tiroid mengalami gangguan sehingga produksi hormon tiroid menjadi terlalu banyak atau terlalu sedikit. Kelenjar berbentuk seperti kupu-kupu ini berada di bagian depan leher dan menghasilkan hormon yang memengaruhi penggunaan energi serta berbagai fungsi tubuh.
Gangguan tiroid dapat muncul dalam beberapa bentuk. Dua kondisi yang paling umum adalah hipotiroidisme, yaitu ketika tubuh kekurangan hormon tiroid, dan hipertiroidisme, yaitu ketika tubuh memiliki terlalu banyak hormon tiroid. Penyebab dan pengobatannya berbeda sehingga pemeriksaan medis penting untuk menentukan kondisi yang tepat.
Apa Itu Penyakit Tiroid?
Kelenjar tiroid menghasilkan hormon yang membantu mengatur metabolisme tubuh. Ketika fungsi kelenjar ini terganggu, perubahan kadar hormon dapat memengaruhi berbagai bagian tubuh.
Hipotiroidisme terjadi ketika kelenjar tiroid tidak menghasilkan hormon dalam jumlah yang cukup. Sebaliknya, hipertiroidisme terjadi ketika kelenjar menghasilkan hormon tiroid secara berlebihan.
Selain gangguan kadar hormon, masalah tiroid juga dapat berupa benjolan atau nodul pada kelenjar tiroid. Nodul tidak selalu mengubah kadar hormon dan sebagian besar tidak bersifat kanker, tetapi benjolan pada leher tetap perlu diperiksa oleh tenaga kesehatan.
Penyebab Hipotiroidisme
Salah satu penyebab hipotiroidisme adalah penyakit Hashimoto. Kondisi ini merupakan gangguan autoimun ketika sistem kekebalan tubuh menyerang kelenjar tiroid sehingga kemampuan kelenjar dalam menghasilkan hormon menurun.
Hipotiroidisme juga dapat muncul akibat peradangan tiroid, operasi pengangkatan sebagian atau seluruh kelenjar tiroid, terapi radiasi, serta penggunaan obat tertentu. Gangguan pada kelenjar pituitari juga dapat menyebabkan masalah produksi hormon tiroid, meskipun penyebab ini lebih jarang.
Asupan yodium yang terlalu sedikit atau terlalu banyak juga dapat memengaruhi fungsi tiroid pada kondisi tertentu. Karena itu, penggunaan suplemen yodium sebaiknya tidak dilakukan tanpa arahan tenaga kesehatan.
Penyebab Hipertiroidisme
Penyebab hipertiroidisme cukup beragam. Salah satu yang paling umum adalah penyakit Graves, yaitu gangguan autoimun yang membuat kelenjar tiroid menghasilkan hormon secara berlebihan.
Penyebab lain meliputi nodul tiroid yang terlalu aktif, peradangan kelenjar tiroid, konsumsi yodium dalam jumlah berlebihan, serta penggunaan obat hormon tiroid dengan dosis yang terlalu tinggi. Pada kasus yang jarang, gangguan pada kelenjar pituitari juga dapat menyebabkan hipertiroidisme.
Jenis penyebab perlu diketahui sebelum menentukan pengobatan. Terapi yang cocok untuk hipertiroidisme akibat Graves, misalnya, belum tentu cocok untuk kondisi yang muncul akibat peradangan tiroid.
Gejala Penyakit Tiroid
Gejala penyakit tiroid berbeda sesuai dengan jenis gangguannya. Pada hipotiroidisme, seseorang dapat mengalami mudah lelah, berat badan bertambah, sulit menahan dingin, kulit kering, sembelit, dan perubahan siklus menstruasi.
Hipertiroidisme dapat menimbulkan gejala yang berlawanan. Beberapa orang mengalami penurunan berat badan tanpa sengaja, jantung berdebar atau berdetak cepat, tangan gemetar, mudah berkeringat, sulit tidur, lebih sensitif terhadap panas, dan lebih sering buang air besar.
Gejala tersebut tidak selalu menunjukkan penyakit tiroid karena beberapa kondisi lain dapat menimbulkan keluhan serupa. Karena itu, diagnosis tidak cukup berdasarkan gejala saja.
Bagaimana Dokter Mendiagnosis Penyakit Tiroid?
Dokter biasanya memulai pemeriksaan dengan menanyakan keluhan dan riwayat kesehatan, kemudian melakukan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan darah membantu mengetahui fungsi kelenjar tiroid dan mencari kemungkinan penyebabnya.
Tes yang dapat digunakan antara lain TSH, T4, T3, serta pemeriksaan antibodi tiroid. Pemeriksaan antibodi dapat membantu menemukan penyakit autoimun seperti Hashimoto dan Graves.
Dokter juga dapat menggunakan pemeriksaan pencitraan dalam kondisi tertentu. USG atau pemeriksaan lain dapat membantu mengevaluasi nodul dan kondisi kelenjar tiroid sesuai kebutuhan pasien.
Cara Mengobati Hipotiroidisme
Pengobatan hipotiroidisme umumnya menggunakan levothyroxine, yaitu obat yang menggantikan hormon tiroid yang tidak cukup diproduksi tubuh. Dosis obat perlu disesuaikan dengan kondisi pasien dan hasil pemeriksaan hormon.
Pasien tidak sebaiknya mengubah dosis sendiri meskipun gejala sudah membaik. Dokter dapat melakukan pemeriksaan TSH secara berkala untuk menentukan apakah dosis masih sesuai.
Pada banyak kasus, pasien perlu menggunakan terapi hormon dalam jangka panjang. Lama pengobatan bergantung pada penyebab dan kondisi masing-masing pasien.
Cara Mengobati Hipertiroidisme
Pengobatan hipertiroidisme bergantung pada penyebab, tingkat keparahan, kondisi kesehatan, dan faktor lain. Dokter dapat menggunakan obat antitiroid untuk mengurangi produksi hormon tiroid. Obat tertentu juga dapat membantu mengurangi gejala seperti jantung berdebar dan tremor.
Dokter juga dapat mempertimbangkan terapi radioiodin atau operasi pada kondisi tertentu. Radioiodin bekerja dengan mengurangi aktivitas sel tiroid yang menghasilkan hormon. Sementara itu, operasi dapat menjadi pilihan bagi pasien tertentu, misalnya ketika terdapat kondisi yang membuat terapi lain kurang sesuai.
Setiap metode memiliki manfaat dan risiko. Karena itu, pilihan terapi perlu ditentukan bersama dokter setelah penyebab dan kondisi pasien diketahui.
Apakah Penyakit Tiroid Bisa Sembuh?
Jawaban mengenai kesembuhan bergantung pada jenis dan penyebab penyakit tiroid. Sebagian kondisi dapat membaik setelah penyebabnya teratasi, sedangkan kondisi lain membutuhkan pengobatan jangka panjang.
Hipotiroidisme, misalnya, sering membutuhkan terapi pengganti hormon. Sementara itu, beberapa pasien hipertiroidisme dapat mencapai kondisi hormon yang kembali normal setelah mendapatkan terapi, tetapi penyakit dapat kembali pada sebagian orang.
Karena itu, istilah “sembuh” tidak selalu berarti pasien berhenti menggunakan obat. Tujuan utama pengobatan adalah menjaga kadar hormon dalam rentang yang sesuai dan mengurangi risiko komplikasi.
Kapan Harus Memeriksakan Diri?
Keluhan seperti perubahan berat badan tanpa sebab yang jelas, jantung berdebar, mudah lelah, sensitif terhadap dingin atau panas, serta munculnya benjolan pada leher sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai penyakit tiroid. Namun, keluhan yang menetap dapat menjadi alasan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Pemeriksaan menjadi semakin penting jika terdapat riwayat keluarga dengan penyakit tiroid atau faktor lain yang meningkatkan risiko. Dokter dapat menentukan apakah pemeriksaan hormon tiroid diperlukan berdasarkan gejala dan kondisi pasien.
Jangan mengandalkan obat herbal, suplemen, atau perubahan pola makan sebagai pengganti diagnosis dan terapi medis. Penyakit tiroid memiliki banyak penyebab sehingga penanganannya perlu disesuaikan dengan hasil pemeriksaan.
Baca Juga : Pentingnya Cek Kesehatan Rutin Mengapa Ini Bisa Menyelamat

